Achmad Soebardjo Sosok Inspiratif di Kemlu

​Pagi ini saya melangkahkan kaki lebih pagi dari biasanya, tujuanku ke sebuah rumah di Jalan Cikini Raya No. 28 Jakarta Pusat. 

Rumah tua tempat salah satu sosok inspiratif pendiri bangsa pernah tinggal. Dari luar tampak tembok dan gerbangnya terlihat kurang terawat. Daun kering berserakan di halamannya yang teduh oleh rindangnya pepohonan. Sekilas kesan, rumah itu tidak lagi berpenghuni. 

Di rumah ini dahulu tinggal seorang Achmad Soebardjo Djoyoadisuryo beserta keluarganya, ia seorang pejuang yang juga merupakan orang pertama di Republik ini yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Kehidupan Achmad Soebardjo memang penuh warna. Saat muda ia adalah seorang aktivis mahasiswa pejuang kemerdekaan, termasuk generasi awal pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Eropa, lebih awal dibandingkan Bung Hatta, Sjahrir, atau Tan Malaka. 

Beliau juga berpengalaman sebagai wartawan di berbagai media massa. Dan setelah Indonesia merdeka beliau diserahi tugas sebagai Menteri Luar Negeri pertama. Berkat jasanya saat ini berdiri Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) yang dulu dikenal dengan sebutan Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN). Untuk mengenang jasanya, nama Achmad Soebardjo diabadikan menjadi nama wisma di Pusdiklat, Senayan, Jakarta Selatan.

Sosok inspiratif tersebut lahir pada tanggal 23 Maret 1896  di Karawang, Jawa Barat, dari  seorang ibu berdarah Jawa dan ayah berdarah Aceh. Ayahnya adalah seorang Teuku dari Aceh keturunan Panglima Sagi, Teuku Moh. Joesoef. 
Ada sebuah kisah menarik menyangkut aktivitas Soebardjo di Perhimpunan Indonesia. Dalam salah satu rapat organisasi, beliau mengusulkan untuk menggunakan lambang berwarna merah putih sebagai simbol organisasi. Inspirasi tersebut  datang dari bendera Gula Kelapa warisan raja-raja Majapahit yang diadopsi oleh Kerajaan Yogyakarta. Usulnya diterima oleh forum. Dan dibuatlah sebuah lambang dengan warna merah putih. Soebardjo sendiri membuat lambang serupa dan digantungkan di kamar rumah yang disewanya di Leiden. Secara bergurau dia berkata kepada teman-temannya barang siapa ingin lulus dalam ujian doctoral harus bersujud di depan lambang merah putih itu dan memberikan penghormatan kepada tanah air. 

Percaya pada Kekuatan Gagasan

Sebagai seorang intelektual-pejuang, Soebardjo sangat lekat dengan ide atau gagasan. Dia tidak hanya terpukau dengan gagasan, tetapi juga percaya akan kekuatannya. Menurutnya, idelah yang telah mengubah dan membentuk sejarah umat manusia di dunia, tak terkecuali sejarah Indonesia. 

Bagi Soebardjo, Republik Indonesia adalah negara yang dibentuk dengan ide sebagai batu fondasi sekaligus tiang penyangga. Kalimat pertama Pembukaan UUD 45 berbunyi: 

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. 

Kalimat pembuka ini menunjukkan secara gamblang dan tegas kepercayaan sekaligus komitmen para pendiri Republik atas ide tentang kemerdekaan sebagai hak dan perlunya penjajahan dihapuskan.

Kepercayaannya pada kekuatan ide ini membuat Soebardjo yakin bahwa memahami sejarah saja tidaklah cukup tanpa mengerti dan menghayati ide dan nilai yang melingkupinya. 

“Generasi muda tidak hanya harus mengetahui fakta-fakta yang membentuk latar belakang sejarah pergerakan nasional Indonesia, tapi juga harus mengetahui seta menghayati prinsip-prinsip dasar, yakni self-relience, self-help, dan self-determination yang secara nyata berhasil menghancurkan rezim kolonial.” 

Saat secara resmi ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri pada tanggal 19 Agustus 1945, Achmad  Soebardjo dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Kantor belum tersedia, pegawai pun belum ada. Bisa dibilang ia memulai dari nol, tidak seperti menteri-menteri lain yang telah bisa bekerja secara normal. Di tengah segala kesulitan yang dihadapinya, dia dituntut untuk mengambil langkah cepat. Maklum, situasi masih bergejolak. Ancaman penjajah bisa datang kembali sewaktu-waktu, sementara orang-orang yang bekerja pada Republik memiliki kesetiaan yang masih terbelah. Sebagian dari mereka masih tidak percaya bahwa Republik bisa bertahan dan menunggu kembalinya Belanda. 

Hal pertama yang dilakukan Achmad Soebardjo adalah mencari pegawai dengan memasang iklan di koran Asia Raya yang berbunyi 

Siapakah yang ingin menjadi pegawai Departemen Luar Negeri?

Iklan tersebut direspon oleh sepuluh pelamar, dan semuanya langsung diterima olehnya. Lima orang dia serahi tugas sebagai sekretaris, sementara lima yang lain diminta mengatur administrasi. Karena kantor belum tersedia, maka digunakanlah rumah pribadinya sebagai tempat kerja sehari-hari. 

Satu hal yang tidak pernah dilupakan oleh Achmad Soebardjo adalah ide dan prinsip yang melandasi berdirinya Republik: percaya pada diri sendiri, tidak minta bantuan dari siapapun dan dari manapun, tidak bekerja sama dengan Belanda. 

Seluruh energi Deplu yang ada waktu itu dicurahkan untuk mempertahankan supaya Republik tetap tegak berdiri. 

Sebagai negara yang baru lahir, masalah pengakuan internasional menjadi prioritas yang harus segera dipecahkan. Tanpa adanya pengakuan dari masyarakat internasional akan kemerdekaannya, Indonesia tidak akan pernah bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Maka kerja keras Subardjo melalui Deplu adalah menyebarkan sebanyak-banyaknya informasi mengenai kemerdekaan Indonesia kepada dunia luar, antara lain melalui radio dan telegram. 

Dukungan pun datang dari berbagai pihak dan kalangan. Di Sydney, Australia, para buruh pengangkutan mogok kerja ketika disuruh memindahkan emas dari Bank of Sydney ke kapal Belanda karena mereka beranggapan emas itu akan diangkut ke Indonesia untuk membiayai upaya menggagalkan perjuangan kemerdekaan. Di Canberra, Partai Komunis Canberra membuat selebaran yang isinya menganjurkan agar Australia jangan mendukung Belanda menjajah kembali Indonesia. Di New Delhi, India, pemimpin Partai Kongres India Shri Jawaharlal Nehru memprotes Pemerintah Inggris agar jangan menggunakan tentara India untuk menindas perjuangan kemerdekaan Indonesia. di Manchester, Inggris, dilangsungkan Pan African Congress yang antara lain menyatakan dukungannya kepada revolusi Indonesia. di Singapura, 7.000 buruh pelabuhan China dan India mogok kerja sebagai wujud simpati atas perjuangan Indonesia. Di Amerika Serikat, Presiden Harry S. Truman menegaskan sikap AS yang tidak ingin mencampuri politik dalam negeri negeri-negeri di Asia Timur.

Keteguhan Prinsip

Achmad Subardjo tidak lama menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, hanya sekitar 3 bulan. Perbedaan prinsip dan pandangan politik menjadi penyebab utama. 

Pada bulan November 1945 terjadi perubahan dari Kabinet Presiden menjadi Kabinet Menteri. Sutan Sjahrir yang berhaluan sosialis didaulat menjadi Perdana Menteri dan memegang sebagian kekuasaan yang tadinya dimiliki Presiden Soekarno. Soebardjo menyebut peristiwa itu sebagai “silent coup detat, suatu perebutan kekuasan dengan bantuan Badan Pekerja Komite Nasional Pusat.”

Bagi Achmad Soebardjo pilihannya jelas: antara prinsip dan jabatan, antara prinsip dan kenyamanan hidup. 

Setelah penolakan itu, dia merasa hidupnya tidak lagi aman karena diburu oleh musuh-musuh politiknya. Bahkan dia sempat mengecap pahitnya hidup di pelarian dan penjara bersama Tan Malaka.

Namun untunglah kehidupan suram semacam itu tidak lama. Ketika Kabinet Sukiman berkuasa (April 1951-Februari 1952), Soebardjo kembali menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. 

Bahkan setelah masa tugasnya berakhir, dia diberi jabatan sebagai Penasihat Menteri Luar Negeri dengan status Duta Besar. Dengan statusnya itu, beliau berkeliling dunia menjalankan tugas bagi negara. Tahun 1957-1961 Soebardjo menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Swis. 

Menjelang usia senjanya beliau masih aktif menjalankan berbagai aktivitas sampai Tuhan berkenan mamanggilnya pada 15 Desember 1978 dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina. 

Achmad Soebardjo dimakamkan di rumah peristirahatannya di Cipayung Bogor. Tahun 2009, Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.

Achmad Soebardjo memang telah lama berpulang. Akan tetapi teladannya mengajarkan kepada kita tentang suatu hal: bahwa negeri ini dibangun dengan fondasi gagasan, dan gagasan itu akan tegak hanya jika diperjuangkan. 
Bersama Hut Kemlu pada tanggal 19 Agustus Ibu Mentri Luar Negeri, Retno Marsudi melakukan napak tilas di rumah yang penuh sejarah ini. Wajah Bu Retno terdada menahan haru dan sedih saat mengenang perjuangan Achmad Soebardjo.

Napak tilas yang di mulai pada pukul 7 pagi itu di mulai dengan prescon yang dilakukan di rumah kerja Achmad Soebardjo yang tampak masih terawat. Lalu dilanjutkan dengan seremoni di ruang utama. 
Selain di hadiri oleh staf Kemlu, tampak pula para mantan kemlu lainnya serta keluarga besar Alm. Achmad Soebardjo.

Dari rumah sederhana, Indonesia belajar berdiplomasi dan semoga kita semakin jaya di dan berkibar di luar sana. 

Selamat Hari Ulang Tahun Kementerian Luar Negeri, teteplah selalu percaya pada kekuatan gagasan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.