AMT Sang Pahlawan Energi 

​Pernah kepikiran gak bagaimana pendistribusian BBM terutama bensin yang setiap hari kita beli berlangsung dari depo sampai ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU?

Ternyata tak sesederhana yang kita pikirkan loh. Ada beberapa tahapan yang harus dilewati seorang pengantar BBM. Saya merasa bangga karena pada hari rabu tanggal 17 November 2016 kemaren diberi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana cara kerja AMT dalam melakukan pendistibusian BBM di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang, mulai dari cek kesehatan, finger print, pengambilan segel, pengambilan yang jalan, pengisian tangki sampai dengan pengambilan surat jalan. Semuanya melalui sistem yang sangat terperinci dan ketat.
AMT atau Armada Muat Tangki  adalah sebutan bagi sopir yang mengantar BBM, memiliki tanggung jawab yang besar. Dan PT. Patra Niaga yang ditunjuk Pertamina untuk melakukan pendistribusian tersebut memiliki jalur yang cukup ketat dalam hal pelaksanaannya.

Cek kesehatan salah satu prosedur dan rutinitas yang harus di lalui AMT sebelum mengantar BBM

Sang AMT sebelum bekerja dia harus melewati pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan guna menekan error human akibat kelelahan dan kurangnya konsentrasi. Pemeriksaan ini penting sekali karena barang yang dibawa AMT juga sangat bernilai dan beresiko tinggi.
Bila sang AMT terdeteksi kurang sehat, petugas kesehatan akan menyuruhnya untuk beristirahat sejenak. Setelah dirasa cukup fit, sang AMT bisa kembali bekerja.

Para AMT PT. Patra Niaga mendapatkan fasilitas untuk beristirahat dengan ruangan yang cukup nyaman dan ber-ac. Sebutan AMT, adalah salah satu cara Pertamina memanusiakan sebutan sopir yang bagi beberapa orang masih dianggap sebagai sebuah pekerjaan rendah. Padahal bila dipikirkan lagi tugas sopir itu sangat penting, berat dan beresiko. Terutama para AMT, tanpa mereka pendistribusian BBM tidak akan berjalan dengan lancar.

PT. Patra Niaga hingga saat ini memiliki 1200 orang AMT dan 257 armada untuk melayani puluhan SPBU yang tersebar di area Jabotabek plus Sukabumi.

Pengiriman ini berlangsung selama 24 jam dengan sistem shift masing-masing bekerja selama 12 jam. Empat hari kerja dan dua hari off. Hal ini mengacu pada ketentuan HSSE (Health, Safety, Security and Environment).

PT. Patra Niaga membayar upah para AMT sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) setempat, ditambah Upah Performansi sebagai pengganti Upah Lembur yang dibayar berdasarkan kinerja masing-masing AMT. Penetapan Upah Performansi di berikan sebagai pengganti Upah Lembur dan hal ini tidak bertentangan dengan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia. Serta beberapa kompensasi lain seperti Uang Prestasi yang bisa di pakai sebagai beasiswa bagi anak-anak AMT yang memiliki berprestasi.

Beberapa waktu yang lalu sempat terdengar selentingan tentang demo para AMT yang menuntut pengangkatan jadi pekerja tetap Pertamina. Terkait info yang tengah beredar gencar di media sosial dari Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia  (SBTPI-FBTPI), PT. Patra Niaga yang di wakil oleh Bapak Bahtra Insan TS selaku Manager Corporate Communications & CSR menjelaskan sekaligus klarifikasi bila,

– PT Pertamina Patra Niaga (PPN) dengan Awak Mobil Tanki (AMT) tidak memiliki ikatan kerja secara langsung. Dalam hal ini PPN menggunakan jasa perusahaan penyedia tenaga kerja AMT dengan sistem borongan dan masa kontrak kerja selama dua tahun. Jadi dalam hal hubungan kerja, AMT adalah sebagai karyawan perusahaan penyedia tenaga kerja di mana untuk Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang dikelola oleh PT Sapta Sarana Sejahtera.
– Setiap pergantian jasa vendor, para AMT telah mendapatkan haknya berupa Pesangon maupun hak normatif lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Setiap tenaga kerja AMT yang memiliki kinerja baik tetap dipekerjakan kembali melalui perusahaan penyedia tenaga kerja yang baru.

– Saat ini Uang Tunjangan Migas sudah tidak berlaku karena telah berubah ke dalam bentuk pesangon. Hal tersebut mengacu kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per. 04/MEN/II/2009 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep: KEP 27/MEN/II/2000 Tentang Program Santunan Pekerja Perusahaan Jasa Penunjang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi.

– Terkait tenaga kerja AMT yang mendapat pemutusan hubungan kerja PPN memiliki alasan kuat, diantaranya disebabkan oleh indisipliner yang dilakukan oleh para AMT. Dalam hal ini PPN  telah memenuhi seluruh hak-hak AMT melalui jasa vendor sesuai ketentuan yang berlaku.

Pak Bahtra Insan TS juga menjelaskan bila SBTPI-FBTPI PT PPN atau Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia – Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia PT. Pertamina Patra Niaga bukan lembaga resmi di bawah PT. Pertamina Patra Niaga sehingga seluruh kegiatannya di luar tanggung jawab PT. Pertamina Patra Niaga.

Bila dilihat di lapangan yang berdemo hanya beberapa persen saja dari total keseluruhan AMT dan hal ini tidak mempengaruhi kinerja pendistribusian BBM karena tim manajemen PPN TBBM Plumpang telah melakukan beberapa antisipasi diantaranya:

1. Menyiapkan AMT cadangan sebagaimana prosedur dalam penanganan AMT, termasuk menggunakan tenaga bantuan dari TNI Divisi Perbekalan & Angkutan.

2. Melakukan koordinasi dengan aparat Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) untuk pengamanan atas kemungkinan terjadinya tindakan anarkis dari pengunjuk rasa.

3. Antisipasi alih supply dan meningkatkan pasokan BBM ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sejak H-7 sampai dengan H+7.

4. Membentuk Tim Satuan Tugas (SATGAS) untuk melakukan pengawasan dan koordinasi terpadu untuk mencegah hal-hal yang merugikan, serta berupaya menjamin kelancaran distribusi BBM ke seluruh SPBU selama masa ancaman mogok kerja AMT.

Saya sempat berbincang dengan beberapa AMT yang tidak mengikuti mogok dan telah bekerja kurang lebih 3 tahun, rata-rata mereka menyatakan puas dengan sistem kerja di PT. Patra Niaga ini. Alasan mereka tidak ikut mogok karena memikirkan keluarga yang masih harus mereka tanggung. Menayangkan bagai mana nasib keluarganya bila sang AMT ini tidak bekerja?

Satu hal yang menjadi renungan, tugas dan pekerjaan para AMT itu tidak mudah dan mereka pantas mendapatkan gelar pahlawan energi, karena tanpa mereka pendistribusian BBM tidak akan berjalan dengan baik dan lancar.

Dan bagi seorang AMT pun harus bangga dengan pekerjaannya yang sangat penting dan penuh berkah karena menyangkut hajat hidup banyak orang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.