Cegah Stunting Dengan Makanan Bergizi Seimbang

Data WHO mencatat hampir 9 juta anak di Indonesia usia 5 tahun mengalami pertumbuhan tidak maksimal atau stunted akibat kekurangan gizi. Hal ini menjadikan bangsa kita menjadi nomor 5 penyumbang anak stunting.

Dan persoalan ini jadi masalah yang krusial yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh pemerintah dalam mewujudkan Generasi Emas 2045 mendatang. Lalu apa itu stunting? Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak memiliki tubuh lebih pendek dibanding anak lain seusianya.

Saat ini di Asmat, Papua, kasus gizi buruk kian memprihatinkan, sedikitnya ada 61 anak meninggal karena gizi buruk. Lain lagi dengan kasus di Kendari, Sulawesi Tenggara, kasus gizi buruk terjadi karena orang tua memberikan susu kental manis sebagai minuman bayi.

Miris sekali, susu kental manis yang telah dianggap sebagai minuman susu yang diberikan kepada anak guna memenuhi nutrisi dan pelengkap gizi tersebut nyatanya 50% kandungannya adalah gula. Kalau dikaji lagi bukannya menambah nutrisi tapi malah bisa mengakibatkan penyakit diabetes. Hal ini terjadi karena masih kurangnya informasi yang didapat oleh masyarakat, terutama mereka yang berada daerah.

Risiko bagi masa depan bangsa jika gizi buruk ini terus dibiarkan, anak-anak akan rentan terkena penyakit – penyakit katastropik saat dewasa, seperti jantung koroner, stroke, hepatitis, dan lainnya, dan akan menjadi beban bagi negara jika dibiarkan. Dari data Kemenkes, pemerintah harus mengeluarkan Rp1, 69 Triliun atau 29,67% beban biaya Jaminan Kesehatan Nasional untuk pembiayaan penyakit katastropik. WHO mencatat, saat ini gizi balita di Indonesia berada di bawah standar yang ditetapkan World Heatlh Organization (WHO) yakni di bawah 10%.

Menyikapi masalah gizi buruk dan dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2018, PP Muslimat NU sebagai organisasi perempuan terbesar di Indonesia, merasa perlu mengingatkan kembali pentingnya peran ibu dalam pertumbuhan anak dengan memberikan makanan sehat bergizi. Untuk itu PP Muslimat NU bekerja sama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia mengadakan diskusi mengenai gizi dengan menggangkat tema “Stunting dan Gizi Buruk Tantangan Dalam Mewujudkan Generasi Emas 2045.

Acara yang di selenggarakan pada hari Selasa, 23 Januari 2018 tersebut dilaksanakan di Graha Utama Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jl. Jenderal Sudirman Jakarta dengan menghadirkan 4 pembicara, yaitu:
Pembicara :
1. Dra Hj Nur Hayati Said Agil Siradj MA, Ketua Pengurus Harian PP Muslimat NU
2. Siti Masrifah, Anggota Komisi IX DPR RI
3. Prof. Dr. Dodik Briawan MCN, Ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga SEAFAST IPB
4. Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI

Prof.Dr. Dodik Briawan MCN

Prof.Dr. Dodik Briawan MCN dalam pemaparan materinya menjelaskan, intervensi gizi perlu dilakukan dalam bentuk edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat, terutama orang tua.

“Orang tua harus paham betul kebutuhan nutrisi anak, makanan yang baik dan tidak baik, tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup yang serba instan, serta iklan-iklan produk makanan anak yang kadang menjanjikan hal berlebihan,” jelas Prof. Dodik.

Beliau menekankan dalam memberikan asupan makanan pada anak dapat beresiko bagi masa depan bangsa.

Dr. Damayanti Rusli

Sedangkan Dr. Damayanti Rusli mengatakan, faktor utama masalah stunting di Indonesia salah satunya adalah akibat buruknya asupan gizi pada janin sejak masih dalam kandungan, saat baru lahir hingga anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Investasi gizi pada 1000 hari pertama kehidupan merupakan kewajiban yang tak dapat ditawar dan disinyalir dapat meminimalisir gizi buruk pada anak.

“Permasalah gizi tidak hanya akan menggangu perkembangan fisik dan mengancam kesehatan anak, namun bisa iuga menyebabkan kemiskinan, karena pertumbuhan otak anak yang kurang gizi tidak akan optimal dan akan mempengaruhi kecerdasannya pada masa yang akan datang. Dengan demikian, peluang kerja dan mendapatkan penghasilan lebih akan lebih kecil pada anak stunting,” papar dr. Damayanti.

Dari dua pemaparan narasumber di atas, menjelaskan bahwa stunting bisa dicegah dengan pemberian makanan bergizi dari saat janin dalan kandungan hingga ia berusia dua tahun. Yuk, ibu-ibu belajar bijak memberi anak makanan, jangan sampai salah kaprah dalam memenuhi nutrisi pada anak.

11 comments

  1. aku nggak nyangka loh setinggi itu angka stunting pada balita di Indonesia 🙁 sedih bgt sampe WHO menetapkan negara ini berstatus gizi buruk. semoga tahun ini dan tahun2 mendatang angka stunting bisa semakin menurun, dgn informasi dan pengetahuan yg terus disebarkan di tengah masyarakat

  2. Sekarang bisa sih kalau mau check anak anak Kita stunting atau enggak. Langsung aja ke dokter anak. Serem jg stunting ini efeknya sampe dewasa soalnya.

  3. Perlu diberikan banyak edukasi tentang informasi SKM pada para orangtua dimulai dari keluarga kita ya mba, diberikan pengertian tentang kandungannya. lebih baik buat toping aja, itu pun jangan terlalu banyak.

  4. Ya ampun ngenes banget standar kesehatan bayi Indonesia, masih di bawah 10 persen. Memang harus bijak memilih makanan buat anak, kadang aku kalau kepepet anak nggak makan, kasih apa aja yang mereka suka.

  5. Saya masih suka tergoda gaya hidup instan mba. Beli makanan siap saji dan juga yang instan dalam penyajian. Jadi merasa bersalah sama anak kadang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.