Mampukah Koperasi Bersaing di Era MEA?

​Mendengar kata Koperasi, apa yang ada di benak kalian?

Emang koperasi masih ada? Itu jawaban terbanyak, karena terus terang, gaung koperasi saat ini kalah pamor dengan startup atau market place. 

Sungguh di sayangkan lembaga keuangan non bank sekaligus pondasi perekonomian nasional ini kini hanya di kenal oleh orang yang bergerak di bidang ekonomi atau orang tertentu saja. 

Koperasi menurut KBBI:

ko·pe·ra·si (n)perserikatan yang bertujuan memenuhi keperluan para anggotanya dengan cara menjual barang keperluan sehari-hari dengan harga murah (tidak bermaksud mencari untung);

– konsumsi koperasi yang menyediakan keperluan sehari-hari bagi anggotanya; 

– produksi koperasi yang membuat barang dan dijual bersama-sama;

 – simpan pinjam koperasi yang khusus bertujuan melayani atau mewajibkan anggotanya untuk menabung, di samping dapat memberikan pinjaman kepada anggotanya;

ber·ko·pe·ra·si (v) berusaha (bekerja) dengan jalan koperasi (bekerja sama);

per·ko·pe·ra·si·an (n) perihal berserikat, organisasi koperasi

Semenarik apakah koperasi  di tengah masyarakat, lalu bagaimana persaingannya di dunia bisnis terutama pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini? 

Untuk menjawab semua itu, pada tanggal 27 Juni 2016, Smesco sebagai rumah bagi para koperasi dan UKM bekerjasama dengan Forwakop dan Humas KUKM menggelar seminar nasional yang mengusung tema #RevitalisasiKoperasi. Dengan mengambil tempat di Galeri Indonesia Wow lantai 2, menghadirkan para narasumber Choirul Djamhari Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Agus Sujatmoko Ketua Harian Dekopin, Bowo Sidik Pangarso, SE anggota DPR/MPRI komisi VI, dan Jimmy Gani Executive Director & CEO IPMI International Business School Jimmy Gani, serta di hadiri pula oleh Agus Muharram, Sekretaris Kementerian Koperasi UKM dan Heriyanto dari Forum Wartawan Koperasi.
Tema ini selaras dan mengacu pada niat Kementerian Koperasi dan UKM untuk terus mengembangkan koperasi di tanah air. Karena tanpa disadari Koperasi memiliki potensi besar untuk maju namun belum terkelola dengan baik dan maksimal. Selain itu acara ini diadakan untuk menyambut hari Koperasi yang jatuh pada tanggal 12 Juli mendatang. 

Lalu apakah Revitalisasi? Revitalisasi menurut KBBI:

re·vi·ta·li·sa·si n proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali: berbagai kegiatan kesenian tradisional diadakan dl rangka — kebudayaan lama.

Jadi Jadi secara tersirat dan tersurat seminar ini adalah mengajak para pelaku ekonomi untuk kembali menghidupkan Koperasi.

Tak dapat dipungkiri pada era teknologi informasi saat ini tantangan perkembangan koperasi sangat besar. Terutama, dalam hal penguasaan TI serta kualitas SDM. Selain itu, hampir tidak ada riset dan development tentang koperasi di Indonesia sehingga koperasi seperti berjalan di tempat. 

Agus Muharram, Sekretaris Kementerian Koperasi UKM Dalam sambutannya mengatakan, “Mungkin saja suatu saat bisa digagas Rapat Anggota Tahunan (RAT) secara online, tapi ini juga harus diatur ketentuannya. Untuk itu koperasi perlu bersikap terbuka dan mengikuti dinamika termasuk perkembangan teknologi.”

Dan Agus juga sempat menyoroti tentang kualitas serta kemasan produk atau packaging dari produk UKMK kita yang masih jauh tertinggal.

Bowo Sidik Pangarso dalam pemaparan materinya menekankan perlunya pendampingan pemerintah terhadap koperasi agar bisa berkembang dan mampu bersaing dengan pelaku ekonomi lainya di era MEA. Konsekuensi MEA terhadap koperasi di Indonesia adalah adanya  persaingan bebas dalam perdagangan barang, jasa, dan investasi di kawasan ASEAN. 

Menurut data BPS, jumlah koperasi aktif di Indonesia bertambah dari 98.944 menjadi 150.233 sejak tahun 2006 hingga tahun 2015. Namun data Kemenkop & UKM mengatakan koperasi yang tidak aktif ada sekitar 49.000, berarti hampir seperempat dari jumlah keseluruhannya.
Dan dari ratusan ribu koperasi tersebut hanya satu koperasi yang diakui kualitasnya di International Co-operative Alliance (ICA), yaitu Koperasi Telkomsel (Kisel) yang mendapat peringkat 123 pada tahun 2015. Untuk itu perlu berbagai upaya dalam peningkatan mutu seperti pendidikan, pelatihan, dan pendampingan agar semakin banyak koperasi di Indonesia yang sukses seperti Kisel. 

Koperasi harus mempunya strategi agar mampu menghadapi MEA yaitu memperkuat SDM, memperkuat organisasi, menciptakan inovasi, dan menaikkan kelas dari usaha yang hanya mencukupi kebutuhan anggota menjadi usaha yang mampu berkompetisi dan berdaya saing. 

Berdasarkan amanat UUD 1945 dan UU koperasi perlu adanya pendekatan keberpihakan dan pengembangan kemandirian oleh pemerintah. Pemerinta perlu menerapkan kebijakan yang berpihak pada pasar, seperti bahan mentah dan sewa tempat yang lebih terjangkau. Bentuk pendekatan keberpihakan bisa berupa kesempatan berusaha, dukungan peningkatan ketrampilan, serta perlindungan usaha terutama bagi koperasi dan UMKM yang berkembang di antara masyarakat yang berpendapatan rendah. 

Agar Koperasi dan UMKM naik kelas maka strategi yang disarankan berupa:
– Peningkatan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran seperti perluasan pasar dan akses ke sumber daya produktig.

– Penguatan kelembagaan usaha melalui modernisasi usaha.

– Peningkatan kapasitas dan perlindungan usaha melalui kebijakan dan insentif. 

– Peningkatan kualitas SDM

– Peningkatan pembiayaan serta perluasan skema dan pembiayaan. 

“Jika barang mentah sudah mahal, bagaimana koperasi bisa bersaing dengan produk dari luar?” ungkap Bowo.

Permasalahan yang sedang dihadapi oleh perekomian kita saat ini:

– Berlangsungnya pelemahan ekonomi global 

– Inflasi dan fluktuasi harga

– Pasar keuangan global yang terus bergejolak 

– Penurunan suku bunga kredit

-Tidak adanya amnesti tax

Sedang permasalahan utama koperasi dan UMKM masih di sekitar keterbatasan modal, inflasi, pajak, serta infrastruktur. Untuk itu perlu mengkombinasikan strategi defensif dan offensive ke depannya.

“Koperasi jangan hanya defensif, tapi juga harus offensive dalam memasarkan produknya,” saran Chairul Djamhari.

Strategi defensif di antaranya mempertahankan pasar domestik, mensosialiasikan gerakan aku cinta Indonesia, dan mengusahakan HAKI bagi produk KUMKM. Sedangkan strategi offensive antara lain,  dipenetrasi pasar baru, exploitasi HKI, mengusahakan iklim investasi yang atraktif dan menarik bagi para investor. Serta menciptakan peluang devisa secara kreatif.

Saat ini koperasi seolah mengabaikan identitasnya sebagai usaha bersama yang menjunjung tinggi RAT. Koperasi saat ini lebih suka bermain soliter daripada bekerja bersama-sama dengan koperasi lainnya. 
“Mari kita kembali ke pemahaman identitas dan prinsip-prinsip koperasi yaitu keanggotaan sukarela dan terbuka, partisipasi ekonomi anggota, otonom dan independen,” ajak Choirul. 

“Koperasi saat ini harus berubah karena tantangannya telah berbeda. Dan pertanyaannya adalah mau tidak koperasi berubah?” tanya Agung Sujatmoko.

Dalam realitanya koperasi saat ini masih jauh untuk bisa menerima perubahan dinamika ekonomi, strategi persaingan, kemajuan teknologi dan kepedulian sosial perusahaan.

Ada yang menarik dari pemaparan Jimmy M.Gani yang menekankan pada peningkatan daya saing koperasi. Mau tidak mau koperasi harus siap berubah dan mengikuti dinamika. Koperasi sama seperti pelaku usaha ekonomi lainnya, bisa unggul dengan memperhatikan peluang yang ada dan menggunakan teknologi. Ia memberi contoh dengan penayangan video sebuah koperasi terbesar di dunia yang berada di Belanda. Koperasi tersebut pun terus berkembang dan produknya berupa bunga mampu menjangkau berbagai negara. Jimmy juga menjelaskan konsep ekonomi berbagi yang sekarang tumbuh dan menjadi fenomena dimana sebenarnya unit usaha tersebut tidak memiliki resource tapi menggandeng partner sebagai resource tersebut. Contoh ekonomi berbagi yaitu Airbnb, Uber, dan Go-Jek. 

Koperasi bisa tumbuh besar dengan cara menerapkan konsep mau bekerja sama dengan koperasi lainnya, tidak hanya bekerja sendiri. 

“Agar koperasi bisa terus berkesinambungan, maka koperasi perlu model bisnis yang kuat, manajemen yang profesional, dan sumber pendanaan untuk mengembangkan koperasi tersebut,” tandas Jimmy.

Dari pemaparan materi dan diskusi tersebut bisa disimpulkan bila pekerjaan rumah koperasi agar bisa tumbuh dan bersaing cukup berat, namun  koperasi bisa tumbuh dan berkembang dengan melihat point:

• Globalization

• Urbanization

• Digitization

Indonesia saat ini di posisi yagn sangat perlu pembenahan dibidang pajak, korupsi, public utility. Perubahan koperasi lebih banyak terhalang dari dalam intern koperasi tersebut dari pada eksternal.

2 comments

  1. lengkap kap infonya mbak.. semoga koperasi bisa bersaing agar dpt menekan rentenir, dan memajukan UKM..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *