Menikmati Keindahan Senja Di Pavilion Resto & Cafe

​Setelah melewati jalanan berliku dan menurun, akhirnya rombongan blogger Cihuy sampai juga di lokasi yang dituju, Pavilion Resto & Cafe. Yang terletak di Jalan KH. Ahmad Dahlan No. 70 Bandar Lampung (turunan Damri).

Saat pertama melihat bangunan ini mengingatkanku pada satu tempat yang sangat familiar namun entah di mana. Seperti dejavu dan langsung jatuh cinta saat melihat beberapa venue out door yang kece. Dan yang ada di benakku adalah menjadikan tempat itu sebagai lokasi untuk foto prewed atau pesta pernikahan. Ahahah ternyata otak bisnisku selalu jalan.
Gimana gak jatuh cinta coba, meski arsitekturnya bergaya minimalis dengan sentuhan modern namun terasa sangat natural. Suasana alamnya masih kental, apalagi di area belakang resto terdapat pemandangan kota Bandar Lampung yang lengkap dengan pesisir pantainya. Yang terbayang adalah bisa menikmati sunset setiap sore ditemani makanan favorit dan orang tersayang. Aihhh imajinasiku mulai liar nih, ahahah ….

Kembali ke resto. Karena kami rombongan, maka Mayang Djausal, Arie Nanda Djausal dan partner selaku pemilik sekaligus tuan rumah mengajak kami menempati ruangan terbuka di lantai atas. Pavilion Resto & Cafe ini belum lama berdiri dan baru soft launching pada 31 Desember 2016 lalu. Sang tuan rumah katanya masih belum PD untuk launching secara resmi. Mungkin bulan Februari-an katanya.Menurut perkiraan luas seluruh area ada sekitar 2000 m2 dan bisa menampung tamu kurang lebih 300 orang. Cocok kan? 

Arie Nanda Djausal menjelaskan bila Resto ini awalnya didirikan sebagai tempat nongkrong untuk kawula muda yang hobby ngumpul-ngumpul, namun ternyata antusiasme pengunjung melebihi perkiraan mereka. Terlihat sih dari pengunjung yang datang malam itu. Rata-rata mereka adalah kaum elit Lampung.

Resto ini di bagi menjadi  5 jenis Pavilion yaitu:

  • Pavilion 1 : Chinese Food
  • Pavilion 2 : Indonesian Traditional Food
  • Pavilion 3 : Pastry and cake
  • Pavilion 4 : Dessert
  • Pavilion 5 : Ricebowl         

Di sekitarnya juga terdapat tenant pendukung yang menyajikan aneka cemilan seperti churros, chicken crispy, cheese roll dan masih banyak lagi.Menu andalan sekaligus favorit adalah Fire Ribs with Smoke Island Sauce. Resto ini lebih condong ke western namun tetap menyajikan masakan lokal seperti aneka masakan iga dan buntut sapi serta ayam.

Kemarin sempat mencicipi beberapa menu iga seperti, iga goreng sambal matta, iga bakar sweet honey, iga bakar spicy dan sop iga original. Dan dari semua olahan iga tersebut saya jatuh cinta pada rasa iga bakar spicy. Iganya lembut dan pedasnya nendang namun pas dilidah. Sayang untuk sopnya sedikit keasinan. Kalau aku bilang kuahnya cenderung seperti soto Bandung di banding sop. 

Untuk minuman saya memesan mocktails Pahawang Island yang berisi blue curacao, syrup lychee, daun mint, buah lychee, ice cream vanila dan air soda. Campuran dari semua bahan menghasilkan rasa baru yang segar. 

Saya juga mencicipi Orange Crumble yang berisi orange syrup, ice cream vanila, potongan jeruk sunkist, wipe cream dan susu segar. 

Serta Pavilion Punch yang terdiri dari sirup orange, sirup lychee, daun mint, lemon juice, buah lychee dan kiwi serta soda water. Emhhh segar banget di tenggorokan.

Lalu untuk dessert saya mencoba Apple pai, Cukopi dan Milo Dinosaur Toast, serta ice cream stroberi. Cukopinya lembut dan saking enaknya gak rela bagi-bagi.
Sebenarnya masih banyak yang diicip-icip tapi otak dan lidah saya hanya mengunci rasa makan di atas dan sayang banget beberapa foto tidak bisa diposting karena kurang pencahayaan. Aih alasan padahal modus biar bisa diajak lagi ke sini. Hehehe …. O, iya meski yang datang terlihat berasal dari status sosial kelas atas, namun harga di resto ini bersahabat loh.

Setelah selesai bersantap malam, rombongan kembali ke penginapan, namun saya dan beberapa teman tidak ikut turun karena blogger Lampung, Fajrin dan bang Indra mengajak nongkrong di Waroeng Mie Aceh Jambo Raya untuk menikmati secangkir kopi khas Lampung. 

Di Bar Pavilion Resto juga menyediakan aneka olahan kopi dengan standar khas cafe. Namun saya ingin menikmati seduhan kopi tradisional, saya terlanjur jatuh cinta pada kopi hitam. Aish … perasaan dari tadi ngomongin jatuh cinta melulu ya? Akhhh maafkan lah, karena saya memang sedang jatuh cinta sama Lampung. :D:D:D. 

Selesai ngopi kita sedikit hunting duren Palembang di jalan Waihalim karena tadi siang agak sedikit kecewa dengan duren kita beli. Wihhh harga duren di sini jauh lebih murah dan rasanya lebih enak. Sempat menyimak bang Indra yang nawar pake bahasa lokal. Hihihi lucu juga sih, padahal hampir gak jauh beda dari bahasa melayu.

Akhh sudah hampir tengah malam nih, harus istirahat karena besok diajak Mayang dan Arie untuk snorkling di Pulau Pahawang. See u 

8 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *