Pulau Pahawang Yang Bikin Susah Move On

​Setelah beberapa jam istirahat dan meluruskan tubuh, pagi ini rombongan Blogger Cihuy sudah sibuk siap-siap untuk bersnorkling di Pulau Pahawang.

Kami berangkat pagi sekali dari penginapan karena memperhitungkan jarak yang harus ditempuh. Sesampainya di lokasi kita diarahkan ke dermaga 2. Kalau gak salah nama dermaganya Ketapang. Sempat melihat situasi di sekitar dermaga, bisa dibilang cukup ramai. Ada beberapa pengunjung dari instansi dan keluarga. Ada juga yang sendirian, ahahah sok tahu nih, padahal dia ketinggalan rombongan. :D:D

Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya kita mendapatkan briefing dari Mayang Djausal dan jasa trip wisata 31 High Room, kami di pandu oleh 6 orang pemandu dan dua perahu. Mayang menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan demi keselamatan saat bersnorkling. Masing-masing peserta di beri jaket pelampung, kaca mata renang dan sepatu bebek. Mayang menekannkan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan, yaitu dilarang buang sampah dan menginjak karang sembarangan.

Rona bahagia dan antusias terlukis di wajah para blogger Cihuy. Setelah menempuh luasnya lautan sekitar satu jam kami sampai di titik aman untuk bisa berenang dan menyelam. Satu persatu menyeburkan diri menikmati asinnya air laut serta indahnya pemandangan dasar laut. Pemandu dari 31 High Room dengan sigap membantu dan mengabadikan beberapa moment langka ini. Saya sempat menyelam untuk berfoto di bawah laut dengan menyentuh Siger sebagai titik spot foto. Sayang waktu melakukan pemotoan yang kedua dilokasi lain gagal dikarenakan kacamata renangku copot hingga membuatku kaget dan bergegas naik kepermukaan.

Setelah puas bersnorkling ria kami dibawa ke sebuah pulau yang sedikit ramai. Di sini kita bisa naik permainan banana boat seharga Rp.35.000 per orang dan donat Rp. 40.000 per orang. Setelah itu kami di bawa ke Pahawang besar untuk makan siang sembari bertemu para pedaiving dari Lampung Daiving Club milik Mayang dan Arie Djausal.Di sini kami diajak berbincang-bincang dengan Mayang, Arie dan pelatih diving Pak Sinek Kurniawan.

Dunia pariwisata memang seperti sebilah pisau bermata dua, satu sisi kita butuh pengunjung sebagai pemasukan, namun dengan banyaknya pengunjung kerusakan pun tak bisa dihindari. Mungkin dari pihak pemerintah masih kurang perhatiannya dan beruntunglah Pahawang memiliki orang-orang yang peduli, baik itu organisasi maupun perorangan. Mereka bahu membahu memberi edukasi tentang bagaimana menjaga kelestarian terumbu karang dan alam di sekitar Pahawang.

Salah satunya adalah Lampung Daiving Club yang diketuai Arie Nanda Djausal. Club ini konsisten dalam menjaga kelestarian terumbu karang dan alam di sekitar pulau Pahawang. Selain itu Arie juga merupakan salah satu instruktur di kelas daiving. Untuk ikut daiving tidak bisa sembarangan, harus memiliki sertifikat.

Pantai di Pulau Pahawang besar berpasir putih namun sayang airnya sedikit butek. Di pulau ini ada beberapa cottage yang tengah dalam tahap penyelesaian. Setelah makan siang dan berbincang dengan para pedaiving dari Lampung Daiving Club, rombongan kembali diajak mengarungi lautan guna melihat aktivitas pedaiving itu menyelam. Sebenarnya waktu di pulau Pahawang besar saya sudah mandi dan berganti pakaian, namun saat sampai di spot daiving saya kembali tergoda untuk nyemplung dan melihat keindahan biota bawah laut Pahawang yang indah.

Pemandangan terumbu karang di Pahawang memang tak seindah Raja Ampat, namun bila dibiarkan begitu saja mungkin Pahawang tinggal nama. Seperti judul tulisan Bang Indra duniaindra.com ” Tanpa Kepedulian, Keindahan Pahlawan Hanyalah Kenangan. ” Sungguh miris bukan? Beruntung Pahawang memiliki orang-orang kece yang peduli dengan kelestariannya.

Meski hanya bersnorkling sebentar karena gak kuat dengan arus bahwa laut yang kuat tapi puas karena bisa melihat langsung pemandangan yang jarang bisa dilihat tersebut. Pahawang memang salah satu surga dunia pedaiving dan snorkling, pokoknya nyesel kalau ke Lampung gak ke pulau Pahawang.

Terakhir, saya hanya berdoa semoga bisa kembali ke Lampung untuk mengeksplor keindahan Pahawang yang bikin saya gagal move on.

7 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.